Bawa Perasaan alias "Baper", kata yang sering dilontarkan seseorang kepada seseorang yang lain dengan maksud bercanda, katanya. Suatu keadaan dimana setiap yang dilontarkan kepadanya terlalu membawa perasaan atau bisa juga dikatakan sensitif.
Salah kah orang punya sifat "Baper"?
Seperti halnya manusia yang butuh menghibur dan dihibur, beberapa manusia terlibat akan guyonan. Hingga sampailah pada titik "Baper". Orang yang dihibur ataupun orang yang dibercandain atau orang yang disindir halus, merasa omongan ataupun kelakuan dari seseorang kepadanya sampai pada titik "Baper". Masuk hingga ke batin.
Bro n' Sist, setiap orang punya pengalaman hidup yang berbeda-beda. Bisa aja omonganmu kepadanya bisa membuatnya teringat akan masa lalunya yang sebenarnya tidak ingin diungkit kembali. Walaupun kamu gak tau dan gak ada maksud seperti itu, tetap aja, si dia teringat akan masa lalunya tersebut.
Bisa juga saat memberi kritikan dan saran kepada seseorang. Seseorang tersebut pun berkemungkinan sampai pada titik "Baper". Salah? Nggak. Justru karena sampai pada titik "Baper" itu lah seseorang tersebut dapat berintropeksi diri pada dirinya. Kadang yang ngasih kritikan dan saran, juga "Baper" sih karena omongannya tersebut.
Pria terkadang tidak bisa mengungkapkan sisi emosionalnya, takut dikira banci, lemah, bocah, dan ungkapan lainnya.
Dengan alasan distraksi kebahagiaan, bisa aja orang yang gak pernah ke clubbing, tiba-tiba pergi ke clubbing. Berapa sloki yang dia abiskan? Berapa persen kadar alkohol yang dipesan? Atau dalam bentuk pelarian yang lain.
Wanita terkadang bisa memproses "Baper" nya dengan membicarakannya dengan keluaga dan orang-orang terdekatnya yang ia percaya. Sehingga ia dapat solusi untuk perubahan pada dirinya.
Jika sampai pada titik "Baper", dekati dia, berikan bentuk perhatian lebih padanya. Karena bisa aja kehadiranmu dapat menjadi pencerahan. Biarkan dia memilih waktu me time sebagai pencerahan jika kamu hanya cuma menambah moodbreaker.