EUFORIA lahirnya PSSI TANDINGAN, sebetulnya sudah didengungkan oleh kelompok pencinta bola di Facebook sekitar April 2010 lalu. Namun, wadah PSSI TANDINGAN untuk menggulirkan sebuah wadah kompetisi, sudah dimatangkan sekitar akhir Juli 2010 lalu. Adalah kubu Arifin Panigoro, yang sudah mendeklarasikan siap menggantikan kubu Nurdin Halid (kini menjadi lembaga status quo sepak bola nasional di republik ini).
Masih ingat, akhir tahun 2002 saat lembaga sepak bola Australia, membuat gebrakan yang super dasyat untuk menggulingkan mantan presiden Australia Soccer Association (ASA), Nick Greiner (Nurdin Halid-nya Australia). Karena dinilai, selama 30 tahun membangun sepak bola Australia gagal total. Pemicunya, saat gagal lolos ke World Cup 2002.
Namun, sebetulnya selama dipimpin Nick Greiner, tubuh organisasi ASA tersebut, memang sudah sangat rapuh, bobrok dan terlalu banyak korupsi. Dan puncaknya lembaga ASA (PSSI-nya Australia) ini dinilai bangkrut. Kondisi seperti inilah, yang membuat komunitas sepak bola Australia, yang berpikiran moderen, dan memiliki kapasitas sebagai manusia-manusia bisnis yang kreatif, mengirim surat kepada Senator Rod Kemp, Menteri Federal untuk Seni dan Olahraga Australia.
Ada 4 poin, yang mempengaruhi carut marut sepak bola Australia saat dipimpin Mick Greiner (Nurdin Halid-nya) Australia, yang mendorong lembaga seperti Soccer Independent Committee, yang diketuai oleh David Crawford, mampu mendesak pemerintah Federal Australia, untuk melakukan penyelidikan ke PSSI-nya Australia yang sangat rapuh, penuh korupsi dan bangkrut. Yaitu :
A) Kegagalan Socceroos (tim nasional Australia) ke Piala Dunia dan Piala Konfederasi karena tidak ada dana yang memadai untuk mengirim pemain yang berlaga di kompetisi di level liga-liga Eropa, walaupun hanya untuk persahabatan dan Piala Oseania.
B) Hasil penyidikan oleh program Four Corners Australian Broadcasting Corporation ke dalam konflik kepentingan di PSSI-nya Australia, sehingga salah urus di tingkat anggota Dewan di sepak bola Australia.
C) Sangat konstan dalam pertempuran antara faksi politik dan kekuasaan legislatif yang timpang tindih antara mayoritas dan minoritas. Sehingga para anggotanya sangat buruk dalam mengabdi untuk sepak bola nasional.
D) Perlawanan terbuka melawan terhadap pemerintah, dan bahkan menolak menerima rekomendasi dari pemerintah, bahkan opini publik juga sudah mendesak agar ada reformasi.
Indonesia Mampukah?
Dengan menyontek semua masalah yang sudah terjadi di sepak bola Australia, maka tim sukses Arifin Panigoro bertemu dengan tokoh-tokoh sepak bola Australia secara intensif bulan Juli 2010 lalu. Agar membangun PSSI TANDINGAN, dengan segal aspek, mirip seperti yang sukses dilakukan oleh semua unsur yang terkait dengan sepak bola, pemilik klub, pemain, wasit dan juga para pemangku kepentingan (bupati, walikota, gubernur), stakeholder -pemilik klub seperti Nirwan Bakrie (Pelita Jaya), Yayasan Arema - Arema Indonesia atau Sihar Sitorus – Pro Titan (dulu, Pro Duta).
Sukses rekomendasi “Laporan Crawford”, sebetulnya beda-beda tipis dengan masalah yang sudah sangat akut dalam tubuh sepak bola nasional, khususnya PSSI. Selain pamor dan sosok Nurdin Halid, yang sudah dua kali masuk penjara, akibat kasus korupsi. Juga masalah sepak bola di Indonesia, benar-benar sudah sangat bobrok.
Sejak tim nasional Indonesia dikalahkan Laos 0 – 2 di Sea Games 2009 lalu, sebetulnya puncak keterpurukan Nurdin Halid yang sudah memimpin sejak 2003, sudah layak harus dicopot dari ‘kursi panas’ PSSI. Apalagi, ditambah tata cara aturan main kompetisi nasional, Liga Indonesia sudah tidak memiliki gengsi apa pun, sejak semua calon juara, calon degradasi dan calon promosi, sudah bisa diatur jauh-jauh hari.
Prestasi tim nasional Indonesia ‘jeblok, kompetisi Liga Indonesia sarat dengan atur mengatur skor dan atur mengatur gelar. Sementara, sistem pembinaan usia muda, tidak pernah berubah dari sistem turnamen ke turnamen, dan kemudian dibuatkan wadah ‘super team’ – terakhir ke Uruguay.
Dalam sistem atsmosfir sepak bola nasional, semakin hari semakin brutal, dengan maraknya tawuran antar suporter, serta tidak pernah lagi ada sportifitas dalam kepengurusan dan manajemen setiap anggota yang ikut kompetisi. Fungsi bisnis sepak bola tidak pernah dijalankan secara benar. Nyaris semua anggota ISL, memiliki Perusahaan Terbatas (PT) atau badan usaha yang bodong, sehingga semua syarat-syarat yang seharusnya wajib dimiliki setiap anggota ISL semuanya mudah ‘diplintir’ dalam kertas-kertas ilegal.
Yang paling miris, ketika pemerintah Indonesia lewat SBY yang mengusulkan adanya Kongres Sepak Bola Nasional (KSN) di Malang pun, juga tidak digubris semua rekomendasinya. Ada tujuh butir, agar PSSI berbenah dan mereformasi semua unsur yang terkait dengan gerbong PSSI dibawah Nudin Halid, juga tidak mempan.
Kondisi seperti inilah, yang membuat kubu Arifin Panigoro yang sudah mendeklarasikan siap menggantikan posisi Nurdin Halid, mulai ancang-ancang untuk mendongkrak ambisinya. Salah satunya, menemukan partner yang punya jaringan ke sepak bola Australia, dan tentunya juga punya jaringan ke AFC dan FIFA. Maka, saatnya kubu Arifin menggodok sebuah wadah dan juga kompetisi PSSI TANDINGAN – dengan nama Breakaway League (mungkin bahasanya, lebih asyik disebut KOMPETISI KEMBALI ke ASALNYA. Inggris di EURO 1996 juga membuat motto – Coming Home.
Hasil Reformasi Australia
Ketika sepak bola Australia mampu direformasi, karena memiliki tujuan yang mulia, sama-sama ingin membangun prestasi sepak bola Australia ke level internasional. FFA – Football Federation Australia adalah lembaran baru, membuka reformasi sepak bola Australia dari lembaga yang bernama Australia Soccer Association (ASA). Dari sebuah nama baru sesuai dengan pergaualan dunia – FIFA. Maka, yang dibenahi pertama kalinya adalah,
1. Mengkritisi tata kelola manajemen dan struktur sepak bola di Australia sebagai sebuah rekomendasi utama.
2.Solusi berbasis untuk memberikan kerangka tata komperhesif dan struktur manajemen untuk olahraga yang membahas kebutuhan organisasi afiliasi dan stakeholder. Rekomendasi ini, termasuk penyesuaian sistem pemerintahan yang ada dan /atau integrasi kegiatan dan operasional.
3.Identifikasi semua hambatan yang sangat berpotensi menggagagalkan reformasi dan strategi untuk mengatasi semua hambatan
4. Rencana melaksanakan rekomendasi dari ‘Laporan Crawford’ .
Hasilnya, meskipun upaya awal untuk membatalkan proses reformasi, ternyata mayoritas reformasi dan rekomendasi telah dilaksanakan oleh Angota Dewan dan Asosiasi Sepakbola Negara. Secara khusus, ketahanan terhadap reformasi di tingkat nasional, sebagian besar hancur oleh ancaman Komisi Olahraga Australia, untuk menahan dana untuk sepak bola Australia.
Restrukturisasi pemerintahan Asosiasi telah menyebabkan pendekatan yang lebih demokratis dan pemberian hak memilih kelompok tidak terwakili sebelumnya (misalnya wasit, pemain wanita, futsal dll). Dalam istilah yang lebih besar, hal itu mengarah pada pengunduran diri dewan Soccer Australia secara massal dan penggantian mereka, dan langsung dipimpin oleh Frank Lowy.
Dewan Frank Lowy telah merombak total organisasi. Sekarang disebut Federasi Sepak Bola Australia, telah mencapai stabilitas keuangan. Hal ini juga mendapat kepercayaan dari komunitas bisnis, setelah diperoleh beberapa sponsor profit tinggi. Kompetisi domestik diluncurkan kembali (Hyundai A-League) dapat dilihat sebagai hasil sampingan dari perubahan diprakarsai oleh laporan Soccer Independen Review Komite.
Harapan kita sama, yaitu bersama memajukan Indonesia yang sudah terlanjur buruk dimata Dunia.
#Suryantoro#
Wartawan Sepak Bola







0 Comment:
Posting Komentar